Ustaz kondang Yusuf Mansur sempat mengkritik keras Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan. Gara-garanya Yusuf Mansur mendengar kabar bahwa sang menteri akan melarang pembacaan doa di sekolah-sekolah saat dimulai dan sesudah jam belajar
SDN 09 BOTUMOITO
SELAMAT DATANG
GUGUS II BOTUMOITO
Rabu, 10 Desember 2014
KURTILAS
Membahas kurikulum 2013, sebagai pendidik/guru dari yang kita rasakan memang sejatinya kurikulum ini tak sepenuhnya dihuni kelemahan masih banyak unsur positif lainnya yang kita rasakan walau kebijakan mendikdasmen perlu kita berikan apresiasi bacaKurikulum 2013 dijalankan secara terbatas.
Ada berbagai konsep baru yang kita temui walau sejatinya konsep tersebut telah kita rasakan namun dikemas dengan cara yang berbeda, dan indikasinya jika kita laksanakan pada proses KBM memang harus kita akui siswa akan lebih aktif "seharusnya".
Melalui konsep 5 M, siswa didik untuk dapat mencari sendiriinformasi, menemukan, menyampaikan pendapat di depan kelas, mengevaluasi, dan menarik kesimpulan secara aktif dan mandiri. Dengan begitu, kurikulum ini juga kembali mengajak anak-anak untuk membudayakan membaca, salah satu kebiasaan yang mulai menurun pada generasi saat ini.
Dalam kurikulum 2013, sikap siswa di dalam kelas juga termasuksalah satu aspek yang dinilai. Karena itu penerapan kurikulum 2013 juga memiliki tujuan yang baik yaitu mendorong anak untuk memiliki sikap yang lebih baik di sekolah, pada teman sejawat, dan terhadap lingkungannya.
Meski begitu, ada beberapa aspek dalam kurikulum 2013 yang menurut Sri Pujiastuti seorangguru SMP di Malang. Saat diwawancarai oleh merdeka.com Minggu (07/12) masih perlu dikaji ulang dan tak dapat diterapkan secara maksimal di Indonesia saat ini.
Salah satunya adalah sistem penilaian yang dinilai guru terlalu rumit. Dalam kurikulum 2013,guru harus melakukan tiga set penilaian terhadap siswa, antara lain penilaian sikap, penilaian kognitif, dan penilaian keterampilan.
Masing-masing set penilaian masih dijabarkan lebih banyak, misalkan set penilaian sikap yang terdiri atas penilaian observasi (kedisiplinan, kejujuran, peduli lingkungan, dsb), penilaian diri, penilaian teman sejawat, dan penilaian jurnal. Sistem penilaian yang banyak dan rumit tersebut harus diterapkan guru pada masing-masing siswa, per mata pelajaran, dan per kompetensi dasar.
"Untuk satu mata pelajaran, rata-rata kompetensi dasar adalah tujuh sampai delapan. Berartiguru harus membuat delapan kali tiga set laporan narasi untuk masing-masing siswa. Jika satu kelas terdiri atas 40 anak dan satu guru mengampu tujuh kelas, maka bisa dibayangkan berapalaporan narasi yang harus dibuat oleh guru. Sementara laporan berbentuk narasi mendalam harus berbeda-beda pada masing-masing siswa," ungkap Sri.
Sistem penilaian yang terlalu banyak inilah yang dinilai memberatkan guru. Bahkan Sri, yang pernah menjabat sebagai Kaur Kurikulum ini, berpendapat bahwa sistem penilaian ini yang paling rumit dibandingkan dengan sistem penilaian pada kurikulum-kurikulum sebelumnya. Menurutnya, semestinya sistem penilaian lebih disederhanakan. Lihat Penilaian Modus,Rerata dan Capaian Optimum Pada Kurikulum 2013
"Seharusnya bisa lebih sederhana. Sistem penilaian yang terlalu rumit seperti ini lebih cocok diterapkan jika satu guru hanya mengampu 16 siswa dalam satu kelas," tambahnya.
Selain sistem penilaian yang rumit, Sri juga menyoroti kurangnya sarana dan prasarana yang belum memadai dan merata untuk menjalankan kurikulum 2013. Tak semua siswa dan sekolah memiliki sarana dan prasarana yang memadai untuk mengajarkan siswanya belajar secara aktif dan mandiri. Terutama jika kurikulum ini akan diterapkan di daerah-daerah yang terpencil. bacaKriteria Sekolah yang menerapkan Kurikulum 2013
"Selain kurangnya sarana, kurikulum 2013 juga belum dievaluasi. Bagaimana kurikulum yang belum dievaluasi sudah langsung diluncurkan dan diterapkan? Seharusnya kurikulum ini dievaluasi dan diujicobakan terlebih dulu. Setelah benar-benar matang dan siap dilaksanakan, baru diterapkan ke sekolah-sekolah," ungkap guru yang sudah mulai mengajar sejak tahun 1979 ini.
Sri mengaku tak serta merta antipati terhadap kurikulum 2013. Menurutnya kurikulum 2013 berkemungkinan untuk diterapkan kembali setelah dikaji ulang, dievaluasi, dan diperbaiki. Dengan begitu, nilai-nilai positif dan kelebihan kurikulum 2013 bisa diterapkan secara maksimal oleh guru untuk kebaikan para siswa.
Ada berbagai konsep baru yang kita temui walau sejatinya konsep tersebut telah kita rasakan namun dikemas dengan cara yang berbeda, dan indikasinya jika kita laksanakan pada proses KBM memang harus kita akui siswa akan lebih aktif "seharusnya".
Melalui konsep 5 M, siswa didik untuk dapat mencari sendiriinformasi, menemukan, menyampaikan pendapat di depan kelas, mengevaluasi, dan menarik kesimpulan secara aktif dan mandiri. Dengan begitu, kurikulum ini juga kembali mengajak anak-anak untuk membudayakan membaca, salah satu kebiasaan yang mulai menurun pada generasi saat ini.
Dalam kurikulum 2013, sikap siswa di dalam kelas juga termasuksalah satu aspek yang dinilai. Karena itu penerapan kurikulum 2013 juga memiliki tujuan yang baik yaitu mendorong anak untuk memiliki sikap yang lebih baik di sekolah, pada teman sejawat, dan terhadap lingkungannya.
Meski begitu, ada beberapa aspek dalam kurikulum 2013 yang menurut Sri Pujiastuti seorangguru SMP di Malang. Saat diwawancarai oleh merdeka.com Minggu (07/12) masih perlu dikaji ulang dan tak dapat diterapkan secara maksimal di Indonesia saat ini.
Salah satunya adalah sistem penilaian yang dinilai guru terlalu rumit. Dalam kurikulum 2013,guru harus melakukan tiga set penilaian terhadap siswa, antara lain penilaian sikap, penilaian kognitif, dan penilaian keterampilan.
Masing-masing set penilaian masih dijabarkan lebih banyak, misalkan set penilaian sikap yang terdiri atas penilaian observasi (kedisiplinan, kejujuran, peduli lingkungan, dsb), penilaian diri, penilaian teman sejawat, dan penilaian jurnal. Sistem penilaian yang banyak dan rumit tersebut harus diterapkan guru pada masing-masing siswa, per mata pelajaran, dan per kompetensi dasar.
"Untuk satu mata pelajaran, rata-rata kompetensi dasar adalah tujuh sampai delapan. Berartiguru harus membuat delapan kali tiga set laporan narasi untuk masing-masing siswa. Jika satu kelas terdiri atas 40 anak dan satu guru mengampu tujuh kelas, maka bisa dibayangkan berapalaporan narasi yang harus dibuat oleh guru. Sementara laporan berbentuk narasi mendalam harus berbeda-beda pada masing-masing siswa," ungkap Sri.
Sistem penilaian yang terlalu banyak inilah yang dinilai memberatkan guru. Bahkan Sri, yang pernah menjabat sebagai Kaur Kurikulum ini, berpendapat bahwa sistem penilaian ini yang paling rumit dibandingkan dengan sistem penilaian pada kurikulum-kurikulum sebelumnya. Menurutnya, semestinya sistem penilaian lebih disederhanakan. Lihat Penilaian Modus,Rerata dan Capaian Optimum Pada Kurikulum 2013
"Seharusnya bisa lebih sederhana. Sistem penilaian yang terlalu rumit seperti ini lebih cocok diterapkan jika satu guru hanya mengampu 16 siswa dalam satu kelas," tambahnya.
Selain sistem penilaian yang rumit, Sri juga menyoroti kurangnya sarana dan prasarana yang belum memadai dan merata untuk menjalankan kurikulum 2013. Tak semua siswa dan sekolah memiliki sarana dan prasarana yang memadai untuk mengajarkan siswanya belajar secara aktif dan mandiri. Terutama jika kurikulum ini akan diterapkan di daerah-daerah yang terpencil. bacaKriteria Sekolah yang menerapkan Kurikulum 2013
"Selain kurangnya sarana, kurikulum 2013 juga belum dievaluasi. Bagaimana kurikulum yang belum dievaluasi sudah langsung diluncurkan dan diterapkan? Seharusnya kurikulum ini dievaluasi dan diujicobakan terlebih dulu. Setelah benar-benar matang dan siap dilaksanakan, baru diterapkan ke sekolah-sekolah," ungkap guru yang sudah mulai mengajar sejak tahun 1979 ini.
Sri mengaku tak serta merta antipati terhadap kurikulum 2013. Menurutnya kurikulum 2013 berkemungkinan untuk diterapkan kembali setelah dikaji ulang, dievaluasi, dan diperbaiki. Dengan begitu, nilai-nilai positif dan kelebihan kurikulum 2013 bisa diterapkan secara maksimal oleh guru untuk kebaikan para siswa.
Anda sedang membaca artikel tentang Dimata Guru Ini Kelebihan Dan Kekurangan Kurikulum 2013 dan anda bisa menemukan artikel Dimata Guru Ini Kelebihan Dan Kekurangan Kurikulum 2013 ini dengan urlhttp://www.gurusd.net/2014/12/dimata-guru-ini-kelebihan-dan.html. Anda boleh menyebarluaskan atau mengcopy artikel Dimata Guru Ini Kelebihan Dan Kekurangan Kurikulum 2013 ini jika memang bermanfaat bagi anda atau teman-teman anda,namun jangan lupa untuk mencantumkan link sumbernya.
DOA SECARA ISLAM
Doa Secara Islam di Sekolah akan Dievaluasi - Setelah membuat keputusan yang terbilang berani dengan menghentikan pelaksanaan K-13 untuk sebagian besar sekolah, kini Anies Baswedan membuat kontroversi dengan akan melakukan Evaluasi terhadap praktik Doa Sebelum dan Sesudah Belajar. Menurut Mendikdasmen, praktik tata cara dominan agama tertentu dalam proses belajar mengajar membuat siswa penganut agama lain menjadi tidak nyaman.
Untuk itu, Kemendikbud tengah menyiapkan konsep cara memulai dan menutup dalam sebuah kegiatan belajar mengajar. Beliau tengah menyiapkan tatib tersebut untuk sekolah-sekolah negeri. Menurut Anies Baswedan, sekolah negeri bukanlah tempat untuk mempromosikan keyakinan agama tertentu. Sekolah negeri selayaknya mempromosikan sikap berketuhanan yang Maha Esa bukan satu agama saja.
Selasa, 10 Desember 2013
PGRI Provinsi Gorontalo
PGRI Provinsi Gorontalo Terbaik Dalam Pengelolaan Organisasi dan Setoran Iuran
Senin, 10 Agustus 2009 , Posted by gemapgrinews.blogspot.com at 13.23

PGRI Provinsi Gorontalo dalam lima tujuh tahun terakhir ini mendapat pengakuan dan apresiasi positif dari Pengurus Besar PGRI. Menurut penilaian PB PGRI, Provinsi Gorontalo merupakan yang terbaik dalam hal pengelolaan organisasi jika dibandingkan dengan Provinsi lainnya di Indonesia. Salah satu indikator terhadap hal itu diantaranya peran serta pengurus dan anggota PGRI dalam agenda-agenda penting PGRI selama ini yang dinilai baik dan mengesankan. Selain itu, setoran iuran PGRI Provinsi Gorontalo ke PB PGRI selalu lancar dan tidak menunggak. Hal itu dikemukakan Ketua PB PGRI Drs. H. Sugito, M.Si dalam sambutannya pada pembukaan kegiatan Seminar EI-PGRI Consortium Project di Hotel Mutiara Kota Gorontalo Jum’at (7/8) lalu.
Menyikapi hal ini atas nama jajaran Pengurus PGRI Provinsi Gorontalo Dra. Hj. Z. Mentemas Jusuf menyampaikan terima kasih kepada PB PGRI yang telah memberikan apresiasi positif terhadap kinerja PGRI Provinsi Gorontalo. Penilaian ini ungkap Ibu Mentemas diharapkan akan mendorong motivasi pengurus dan anggota PGRI se Provinsi Gorontalo untuk selalu aktif, dinamis dan menunjukkan kinerja yang terbaik. Disisi lain, Wakil Ketua PGRI Provinsi Gorontalo yang juga Sekretaris Umum Pengajian Al-Hidayah Provinsi Gorontalo ini menyampaikan terima kasih dan penghargaan yang setulus-tulusnya kepada segenap Pengurus dan anggota PGRI se Provinsi Gorontalo seraya mengharapkan agar kondisi terus dipertahankan dan bahkan ditingkatkan dimasa-masa mendatang. Bagaimanapun juga urai Ibu Mentemas, PGRI selama ini terus berkiprah dan aktif melaksanakan tugas dan fungsinya sebagai organisasi perjuangan, dan sebagai serikat pekerja guru. Ditambahkannya, salah satu unsur paling penting yang perlu mendapat perhatian dari seluruh anggota PGRI adalah masalah pelunasan Iuran PGRI yang selama ini merupakan satu-satunya energi bagi organisasi untuk mendukung gerakan perjuangan PGRI. Meski demikian, mantan Kepala SMA Prasetya Gorontalo ini juga mengharapkan agar anggota PGRI kedepan tidak hanya sekedar mengukuhkan eksistensi keanggotaan PGRI melalui setoran Iuran tapi lebih dari itu mampu berperan aktif dalam berbagai agenda PGRI di berbagai tingkatan organisasi.
PGRI Provinsi Gorontalo dalam lima tujuh tahun terakhir ini mendapat pengakuan dan apresiasi positif dari Pengurus Besar PGRI. Menurut penilaian PB PGRI, Provinsi Gorontalo merupakan yang terbaik dalam hal pengelolaan organisasi jika dibandingkan dengan Provinsi lainnya di Indonesia. Salah satu indikator terhadap hal itu diantaranya peran serta pengurus dan anggota PGRI dalam agenda-agenda penting PGRI selama ini yang dinilai baik dan mengesankan. Selain itu, setoran iuran PGRI Provinsi Gorontalo ke PB PGRI selalu lancar dan tidak menunggak. Hal itu dikemukakan Ketua PB PGRI Drs. H. Sugito, M.Si dalam sambutannya pada pembukaan kegiatan Seminar EI-PGRI Consortium Project di Hotel Mutiara Kota Gorontalo Jum’at (7/8) lalu.
Menyikapi hal ini atas nama jajaran Pengurus PGRI Provinsi Gorontalo Dra. Hj. Z. Mentemas Jusuf menyampaikan terima kasih kepada PB PGRI yang telah memberikan apresiasi positif terhadap kinerja PGRI Provinsi Gorontalo. Penilaian ini ungkap Ibu Mentemas diharapkan akan mendorong motivasi pengurus dan anggota PGRI se Provinsi Gorontalo untuk selalu aktif, dinamis dan menunjukkan kinerja yang terbaik. Disisi lain, Wakil Ketua PGRI Provinsi Gorontalo yang juga Sekretaris Umum Pengajian Al-Hidayah Provinsi Gorontalo ini menyampaikan terima kasih dan penghargaan yang setulus-tulusnya kepada segenap Pengurus dan anggota PGRI se Provinsi Gorontalo seraya mengharapkan agar kondisi terus dipertahankan dan bahkan ditingkatkan dimasa-masa mendatang. Bagaimanapun juga urai Ibu Mentemas, PGRI selama ini terus berkiprah dan aktif melaksanakan tugas dan fungsinya sebagai organisasi perjuangan, dan sebagai serikat pekerja guru. Ditambahkannya, salah satu unsur paling penting yang perlu mendapat perhatian dari seluruh anggota PGRI adalah masalah pelunasan Iuran PGRI yang selama ini merupakan satu-satunya energi bagi organisasi untuk mendukung gerakan perjuangan PGRI. Meski demikian, mantan Kepala SMA Prasetya Gorontalo ini juga mengharapkan agar anggota PGRI kedepan tidak hanya sekedar mengukuhkan eksistensi keanggotaan PGRI melalui setoran Iuran tapi lebih dari itu mampu berperan aktif dalam berbagai agenda PGRI di berbagai tingkatan organisasi.
Kamis, 03 Januari 2013
FOTO GURU SD SE- KECAMATAN BOTUMOITO
| Add caption |
| Add caption |
| Add caption |
| Add caption |
| Add caption |
| Add caption |
| Add caption |
| Add caption |
| Add caption |
| Add caption |
| Add caption |
| Add caption |
| Add caption |
| Add caption |
| Add caption |
| Add caption |
| Add caption |
| Add caption |
| Add caption |
| Add caption |
| Add caption |
| Add caption |
| Add caption |
| Add caption |
| Add caption |
| Add caption |
| Add caption |
| Add caption |
| Add caption |
| Add caption |
| Add caption |
| Add caption |
| Add caption |
| Add caption |
| Add caption |
| Add caption |
| Add caption |
| Add caption |
| Add caption |
| Add caption |
| Add caption |
| Add caption |
| Add caption |
| Add caption |
| Add caption |
| Add caption |
![]() |
| Add caption |
![]() |
| Add caption |
| Add caption |
| Add caption |
| Add caption |
Langganan:
Postingan (Atom)




